Proses pembelajaran janin sudah dimulai sejak dalam kandungan, janin ikut belajar pada trimester kedua dan ketiga, seperti di dalam ruang Amphitheater yang lebih canggih dari kelas mana pun di dunia.
Berikut keahlian-keahlian bayi yang sudah dimiliki sejak dalam kandungan
1. Menghisap Jempol
Wajar jika kebanyakan bayi suka mengisap jempol, karena ternyata kebiasaan ini sudah dimulai sejak dalam kandungan. Refleks isap ini membantu bayi saat akan menyusu, maka ibu tidak perlu lagi memaksakan untuk menyodorkan puting. Keahlian mengisap jempol ini sudah mulai sejak minggu ke-19 karena otak bayi telah mencapai jutaan saraf motorik sehingga ia mampu membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol.
2. Berenang
Sejak bayi di dalam kandungan ia sudah terbiasa berada di dalam air selama 9 bulan, yaitu cairan ketuban. Bayi sedang senang-senangnya berenang di usia kehamilan 20 minggu. Saat ini bayi sedang membuat gerakan-gerakan aktif yang dapat dirasakan ibu, mungkin karena panjangnya baru separuh dari panjang lahir dan beratnya baru sekitar 340 gram sehingga ia masih punya banyak ruang untuk berenang.
3. Cegukan
Saat hamil, terkadang ibu merasakan gerakan continu di satu bagian perutnya. Bisa jadi saat itu janin sedang cegukan. Hal ini biasanya dirasakan sejak kandungan menginjak minggu ke-25. Hal ini menandakan bahwa janin sedang berlatih pernapasan. Saat ini janin menghirup dan mengeluarkan air ketuban, ketika air ketuban yang tertelan terlalu banyak maka ia akan cegukan. Hal ini sesuatu yang wajar.
4. Mendengar
Banyak yang menyarankan ibu hamil sering-sering berkomunikasi dengan janin dalam kandungannya. Hal ini benar, karena meski masih di dalam kandungan, janin sudah dapat mendengar suara ibunya sendiri dan suara orang lain di sekitarnya. Saat melakukan USG 4 dimensi, selain memeriksa kelengkapan organ tubuh, dokter juga akan meminta janin melakukan sesuatu dan melihat respon si janin. Misalnya, ketika janin sedang menunduk, ketika dokter meminta ia menegakkan kepala, ternyata janin bisa mengikuti perintah. Jadi sebaiknya ibu hamil berhati-hati dalam berkata-kata karena janin juga bisa mendengar jika ibunya sedang marah-marah. Hal ini terbukti dengan reaksi perut yang langsung mengencang.
5. Membedakan Terang dan Gelap
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi sejak dalam kandungan 27-28 minggu sudah bisa membuka matanya, sehingga sudah bisa membedakan antara gelap dan terang. Bisa terlihat ketika dokter menempelkan senter di perut, ia bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim. Bahkan janin bisa mengedipkan mata jika menurutnya terlalu silau.
6. Mengekspresikan Diri
Sejak dalam kandungan janin ternyata sudah bisa mengekspresikan diri sesuai dengan yang sedang dirasakan ibunya. Jika ibu dalam keadaan bahagia, duduk santai sambil mendengarkan musik, maka janin juga akan merasakan kebahagiaan tersebut sehingga ia akan tersenyum. Sebaliknya, jika ibu sedang stres, maka janin akan menyengitkan dahi. Lihat saja pada potret USG 4 dimensi bayi Anda.
7. Belajar Dua Bahasa
Ternyata, bayi di dalam kandungan bisa belajar memahami bahasa yang sering ia dengar, bahkan hingga dua bahasa sekaligus. Dan kemampuan ini terbawa hingga mereka lahir. Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Psychological Science, bayi yang terbiasa mendengar dua bahasa selama dalam rahim ibunya kelak akan lebih mudah belajar dua bahasa. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian psikolog dari Universitas of British Columbia dan Organization for Economic Cooperation and Development di Perancis.
(Baca artikel lainnya di http://www.inspiredkidsmagazine.com)
Sabtu, 26 Februari 2011
Rabu, 23 Februari 2011
Tempat Nongkrong Para Kuman Sehari-hari
Beberapa tempat yang terlihat bersih bukan berarti tak ada kumannya. Setidaknya ada 7 tempat dan benda sehari-hari yang paling sering menjadi sarang kuman. Apa saja?
Tempat paling nyaman untuk menjadi sarang kuman seperti dilansir Prevention, Selasa (22/2/2011), yaitu:
1. Keran dapur
Air mengalir dan permukaan yang selalu lembab merupakan kondisi ideal untuk pertumbuhan bakteri. "Karena air keran jauh dari steril, jika Anda secara tidak sengaja menyentuh permukaan dengan jari kotor atau makanan, bakteri dapat tumbuh di tap," jelas Kelly Reynolds, PhD, seorang ahli mikrobiologi dan profesor di University of Arizona College of Public Health.
Seiring waktu, bakteri membangun dan membentuk dinding patogen, yang disebut biofilm yang menempel pada permukaan keran. "Akhirnya, biofilm yang bahkan mungkin cukup besar dapat masuk ke makanan atau peralatan memasak," lanjutnya.
2. Keset
Studi menunjukkan bahwa hampir 96 persen dari sol sepatu mengandung bakteri coliform, juga termasuk bakteri pada tinja. "Daerah di dekat pintu depan Anda adalah salah satu paling kotor di rumah," kata Reynolds. Bila tidak dibersihkan atau sepatu tetap digunakan di dalam rumah, artinya Anda memberi tumpangan gratis pada bakteri untuk masuk ke dalam rumah.
3. Dashboard mobil
Ketika udara yang membawa spora jamur dan bakteri tersedot lewat ventilasi, ia akan mampir di dashboard dan menjadi tempat deposit spora dan kuman. Dashboard cenderung tetap hangat sehingga menjadi tempat nyaman untuk pertumbuhan kuman dan bakteri. Untuk mengatasinya, teratur membersihkan dashboard mobil dengan tisu desinfektan.
4. Botol saus di restoran
Tidak banyak restoran yang secara teratur membersihkan botol saus atau pun kecapnya dengan cairan desinfektan. "Dan kenyataannya adalah bahwa banyak orang tidak mencuci tangan mereka sebelum makan. Jadi, sementara Anda mungkin rajin mencuci tangan, tapi orang-orang yang menuangkan saus tomat sebelum Anda mungkin tidak cuci tangan, yang berarti kuman saat ini ada pada kentang goreng Anda," kata Reynolds.
5. Ponsel
Beberapa studi pada ponsel dan PDA menemukan bahwa alat komunikasi tersebut membawa sangat banyak bakteri, termasuk Staph (yang dapat menyebabkan infeksi kulit), Pseudomonas (infeksi mata) dan salmonella (penyakit lambung). Banyak perangkat elektronik dilapisi kulit atau vinil, yang memberikan banyak lipatan dan celah-celah untuk kuman bersembunyi.
6. Pintu lemari es
Survei University of Arizona dari 160 rumah di tiga kota AS menemukan bahwa gagang pintu di sekitar lemari pendingin positif 83 persen mengandung kuman. KUman dapat menyebar setiap kali pintu lemari es terbuka dan dapat mencemari makanan.
7. Wastafel dapur
Partikel makanan yang tertinggal di piring akan dibilas atau direndam hingga terbuang dalam wastafel. Tapi selama perjalanan tersebut kemungkinan bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit seperti E.coli dan salmonella. Bakteri ini dapat menempel di tangan atau menyebar di makanan.
(sumber: detikHealth)
Tempat paling nyaman untuk menjadi sarang kuman seperti dilansir Prevention, Selasa (22/2/2011), yaitu:
1. Keran dapur
Air mengalir dan permukaan yang selalu lembab merupakan kondisi ideal untuk pertumbuhan bakteri. "Karena air keran jauh dari steril, jika Anda secara tidak sengaja menyentuh permukaan dengan jari kotor atau makanan, bakteri dapat tumbuh di tap," jelas Kelly Reynolds, PhD, seorang ahli mikrobiologi dan profesor di University of Arizona College of Public Health.
Seiring waktu, bakteri membangun dan membentuk dinding patogen, yang disebut biofilm yang menempel pada permukaan keran. "Akhirnya, biofilm yang bahkan mungkin cukup besar dapat masuk ke makanan atau peralatan memasak," lanjutnya.
2. Keset
Studi menunjukkan bahwa hampir 96 persen dari sol sepatu mengandung bakteri coliform, juga termasuk bakteri pada tinja. "Daerah di dekat pintu depan Anda adalah salah satu paling kotor di rumah," kata Reynolds. Bila tidak dibersihkan atau sepatu tetap digunakan di dalam rumah, artinya Anda memberi tumpangan gratis pada bakteri untuk masuk ke dalam rumah.
3. Dashboard mobil
Ketika udara yang membawa spora jamur dan bakteri tersedot lewat ventilasi, ia akan mampir di dashboard dan menjadi tempat deposit spora dan kuman. Dashboard cenderung tetap hangat sehingga menjadi tempat nyaman untuk pertumbuhan kuman dan bakteri. Untuk mengatasinya, teratur membersihkan dashboard mobil dengan tisu desinfektan.
4. Botol saus di restoran
Tidak banyak restoran yang secara teratur membersihkan botol saus atau pun kecapnya dengan cairan desinfektan. "Dan kenyataannya adalah bahwa banyak orang tidak mencuci tangan mereka sebelum makan. Jadi, sementara Anda mungkin rajin mencuci tangan, tapi orang-orang yang menuangkan saus tomat sebelum Anda mungkin tidak cuci tangan, yang berarti kuman saat ini ada pada kentang goreng Anda," kata Reynolds.
5. Ponsel
Beberapa studi pada ponsel dan PDA menemukan bahwa alat komunikasi tersebut membawa sangat banyak bakteri, termasuk Staph (yang dapat menyebabkan infeksi kulit), Pseudomonas (infeksi mata) dan salmonella (penyakit lambung). Banyak perangkat elektronik dilapisi kulit atau vinil, yang memberikan banyak lipatan dan celah-celah untuk kuman bersembunyi.
6. Pintu lemari es
Survei University of Arizona dari 160 rumah di tiga kota AS menemukan bahwa gagang pintu di sekitar lemari pendingin positif 83 persen mengandung kuman. KUman dapat menyebar setiap kali pintu lemari es terbuka dan dapat mencemari makanan.
7. Wastafel dapur
Partikel makanan yang tertinggal di piring akan dibilas atau direndam hingga terbuang dalam wastafel. Tapi selama perjalanan tersebut kemungkinan bisa menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit seperti E.coli dan salmonella. Bakteri ini dapat menempel di tangan atau menyebar di makanan.
(sumber: detikHealth)
Sabtu, 19 Februari 2011
Episode Kemapanan
Episode kehidupan terus berjalan. Saat-saat ini adalah masa dimana ketika semua orang bertanya tentang kemapanan hidup. Kerja dimana sekarang? Anak sudah berapa? Tinggal mana? Jika jawaban memuaskan, maka komentarnya “ wahh dah sukses ya sekarang”.
Kalau jawaban yang diberikan tidak memuaskan penanyanya, maka pilihannya dia akan diam, mengganti topik pembicaraan atau bicara seperti ini “ya ga papa, kerja apa aja yang penting halal” atau “sabar ya, mungkin Allah sedang menguji kesabaran kalian” (untuk yang belum punya anak).
Kadangkala, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi beban bagi yang ditanya jika belum mencapai kemapanan dalam hidup. Walaupun berusaha bersikap tenang, tetap saja ada bagian kecil dalam hati yang meronta-ronta minta dilepaskan.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah, kecuali etos kerja, semangat pantang menyerah dalam bekerja dan berusaha. Harus diakui, sifat-sifat tersebut memang tidak dilahirkan dari bangku sekolah formal. Mengingat sistem pendidikan kita yang masih value oriented. Maksudnya lebih mementingkan nilai hasil belajar, ketimbang prosesnya itu sendiri. Belum lagi penjejalan beragam keilmuan yang kadang tidak dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.
Maka tidak heran, jika generasi muda lulusan universitas hanya bermental pencari kerja, bukan menciptakan lapangan kerja. Begitu pula dengan etos kerjanya, hanya berusaha mencari pekerjaan yang sedikit resikonya tapi besar penghasilannya.
Jadi, bagaimana agar hidup bisa mapan? Kalau mapan diartikan sebagai kekayaan materi, maka maka butuh usaha dan kerja keras untuk meraihnya. Tapia pa benar kekayaan materi membuat anda mapan dalam arti yang lain?
Dalam arti yang lain, mapan bagi saya adalah ketenangan dalam kehidupan. Anak, istri sehat, keluarga bahagia, walaupun uang gaji pas buat hidup sebulan. Alhamdulillah bisa disyukuri. Malah ditengah ke pas-pasan itu masih tetap bisa bersedekah dan berzakat.
Anda sendiri, bagaimana mendefinisikan kata “mapan?”
Kalau jawaban yang diberikan tidak memuaskan penanyanya, maka pilihannya dia akan diam, mengganti topik pembicaraan atau bicara seperti ini “ya ga papa, kerja apa aja yang penting halal” atau “sabar ya, mungkin Allah sedang menguji kesabaran kalian” (untuk yang belum punya anak).
Kadangkala, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi beban bagi yang ditanya jika belum mencapai kemapanan dalam hidup. Walaupun berusaha bersikap tenang, tetap saja ada bagian kecil dalam hati yang meronta-ronta minta dilepaskan.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah, kecuali etos kerja, semangat pantang menyerah dalam bekerja dan berusaha. Harus diakui, sifat-sifat tersebut memang tidak dilahirkan dari bangku sekolah formal. Mengingat sistem pendidikan kita yang masih value oriented. Maksudnya lebih mementingkan nilai hasil belajar, ketimbang prosesnya itu sendiri. Belum lagi penjejalan beragam keilmuan yang kadang tidak dibutuhkan dalam dunia kerja nyata.
Maka tidak heran, jika generasi muda lulusan universitas hanya bermental pencari kerja, bukan menciptakan lapangan kerja. Begitu pula dengan etos kerjanya, hanya berusaha mencari pekerjaan yang sedikit resikonya tapi besar penghasilannya.
Jadi, bagaimana agar hidup bisa mapan? Kalau mapan diartikan sebagai kekayaan materi, maka maka butuh usaha dan kerja keras untuk meraihnya. Tapia pa benar kekayaan materi membuat anda mapan dalam arti yang lain?
Dalam arti yang lain, mapan bagi saya adalah ketenangan dalam kehidupan. Anak, istri sehat, keluarga bahagia, walaupun uang gaji pas buat hidup sebulan. Alhamdulillah bisa disyukuri. Malah ditengah ke pas-pasan itu masih tetap bisa bersedekah dan berzakat.
Anda sendiri, bagaimana mendefinisikan kata “mapan?”
Minggu, 06 Februari 2011
Paksalah Diri Berbuat Taat
Sebuah Tulisan dari Abdullah Gymnastiar, semoga bermanfaat dan bisa membangkitkan kembali semangat untuk beribadah.
Mahasuci Allah, Zat yang memiliki segalanya
Jika Allah menciptakan makhluk jin dan manusia kemudian diperintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga. Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillaah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah, tapi karena saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan.
Allah SWT Mahatahu bahwa kita memiliki kecenderungan lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat. Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan berat melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya. Misalnya ibadah shalat cenderung inginnya dilambatkan. Urusan shaf saja, tidak banyak orang berebutan menempati shaf pertama. Amati saja justru shaf belakang cenderung lebih banyak diminati. Perintah shalat memang banyak yang melakukan, tetapi belum tentu semua melakukannya tepat waktu. Begitu juga dengan tepat waktu, belum tentu juga bersungguh-sungguh khusyu. Bahkan ada – mungkin salah satunya kita – yang justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi lainnya yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak merasa bersalah karenanya.
Saat menafkahkan rizki untuk sedekah, maka si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rizki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tifdak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tidak akan mengurangi rizki, bahkan akan menambah rizki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.
Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang logis dan rasional. Sehingga apa-apa yang kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah, betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini?
Cara yang paling baik yang harus kita lakukan adalah kegigihan kita melawan kemalasan diri. Kecenderungan malas itu kalau mau diikuti terus menerus akan tidak ada ujungnya, bahkan akan terus membelit kita menjadi seorang pemalas kelas berat, naudzubillaah. Berangkat ke mesjid, maunya dilambat-lambat, maka harusnya lawan! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti saja wudhunya di mesjid, lawan! Di mesjid banyak orang, segera lakukan wudhu di rumah saja! Itu sunnah. Sungguh, orang yang wudhu di rumah lalu bergegas melangkahkan kakikya ke mesjid untuk shalat, maka setiap langkahnya adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat.
Sampai di mesjid, paling nikmat duduk di tempat yang memudahkan dia keluar dari mesjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk menghalangi orang lewat. Lebih-lebih lagi bila memakai sandal bagus, ia akan berusaha sedekat mungkin dengan sandalnya, dengan alasan takut dicuri orang. Begitulah nafsu. Bagi orang yang menginginkan kebaikan, dia akan berusaha agar duduknya tidak menjadi penghalang bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf yang paling depan, shaf yang paling utama.
Sesudah shalat, ketika mau zikir, kadang terlintas urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka bagi yang tekadnya kurang kuat ia akan segera ngeloyor pergi, padahal zikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol saja lima belas menit masih dianggap ringan. Atau ada juga yang sampai pada tahap zikir, diucapnya berulang-ulang, subhanallaah – subhanallah, tapi pikiran melayang kemana saja. Anehnya lagi kalau memikirkan dia si jantung hati konsentrasinya sungguh luar biasa. Kenapa, misalnya, mengucap subhanallaah tiga puluh tiga kali, yang sadar mengucapkannya cuma satu kali? Atau ingatlah saat kita akan berdo’a. Walaupun dilakukan, akan dengan seringkas mungkin. Padahal demi Allah, zikir-zikir yang kita ucapkan akan kembali pada diri kita juga.
Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati. Segeralah lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan cara segera melakukan ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bangun dan lawan! Insya Allah itu akan lebih dekat kepada ketaatan. Janganlah karena kemalasan beribadah yang kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, naudzubillaah.
Firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali." (QS. An Nisa [4] : 142)
Ingatlah bahwa kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu berupa kemalasan dalam beribadah, maka kita ini sebenarnya sedang menyusahkan diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia Allah buat kemaslahatan diri kita juga. Coba, Allah menyuruh kita berzikir, siapa yang dapat pahala? Kita. Allah menyuruh kita berdo’a, lalu do’a itu diijabah. Buat siapa? Buat kita. Allah sedikit pun tidak ada kepentingan mamfaat atau madharat terhadap apa-apa yang kita lakukan. Tepatlah ungkapan Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Hikam, "Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surga-Nya (dan tidak mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surga-Nya)". Maka Abul Hasan Ashadilly menasehatkan bahwa, "Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan lebih mencintai Allah SWT".
Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu bukan karena siapa-siapa, itu semua kita yang buat. Padahal sungguh, setiap desah nafas yang kita hembuskan adalah amanah dari Allah SWT, dan sebagai titipan wadah yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Sedangkan hak ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang dilalui oleh seorang hamba. Abul Hasan lebih lanjut mengatakan, "Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan kepadamu terhadap Allah SWT (yaitu beribadah)".
Jadi, sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimuliakan, tapi justru amal-amal yang kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah. Seperti orang yang bercita-cita masuk surga tapi amalan-amalan yang dipilih amalan-amalan ahli maksiat. Maka, sahabat-sahabat sekalian sederhanakanlah hidup kita, paksakan diri untuk taat kepada perintah Allah kalau belum bisa ikhlas dan ringan dalam beribadah. Mudah-mudahan Allah yang melihat kegigihan diri kita memaksa diri ini, nanti dibuat jadi tidak terpaksa karena Dia-lah yang Maha Menguasai diri ini. Insya Allah.
Mahasuci Allah, Zat yang memiliki segalanya
Jika Allah menciptakan makhluk jin dan manusia kemudian diperintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga. Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillaah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah, tapi karena saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan.
Allah SWT Mahatahu bahwa kita memiliki kecenderungan lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat. Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan berat melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya. Misalnya ibadah shalat cenderung inginnya dilambatkan. Urusan shaf saja, tidak banyak orang berebutan menempati shaf pertama. Amati saja justru shaf belakang cenderung lebih banyak diminati. Perintah shalat memang banyak yang melakukan, tetapi belum tentu semua melakukannya tepat waktu. Begitu juga dengan tepat waktu, belum tentu juga bersungguh-sungguh khusyu. Bahkan ada – mungkin salah satunya kita – yang justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi lainnya yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak merasa bersalah karenanya.
Saat menafkahkan rizki untuk sedekah, maka si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rizki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tifdak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tidak akan mengurangi rizki, bahkan akan menambah rizki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.
Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang logis dan rasional. Sehingga apa-apa yang kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah, betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini?
Cara yang paling baik yang harus kita lakukan adalah kegigihan kita melawan kemalasan diri. Kecenderungan malas itu kalau mau diikuti terus menerus akan tidak ada ujungnya, bahkan akan terus membelit kita menjadi seorang pemalas kelas berat, naudzubillaah. Berangkat ke mesjid, maunya dilambat-lambat, maka harusnya lawan! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti saja wudhunya di mesjid, lawan! Di mesjid banyak orang, segera lakukan wudhu di rumah saja! Itu sunnah. Sungguh, orang yang wudhu di rumah lalu bergegas melangkahkan kakikya ke mesjid untuk shalat, maka setiap langkahnya adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat.
Sampai di mesjid, paling nikmat duduk di tempat yang memudahkan dia keluar dari mesjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk menghalangi orang lewat. Lebih-lebih lagi bila memakai sandal bagus, ia akan berusaha sedekat mungkin dengan sandalnya, dengan alasan takut dicuri orang. Begitulah nafsu. Bagi orang yang menginginkan kebaikan, dia akan berusaha agar duduknya tidak menjadi penghalang bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf yang paling depan, shaf yang paling utama.
Sesudah shalat, ketika mau zikir, kadang terlintas urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka bagi yang tekadnya kurang kuat ia akan segera ngeloyor pergi, padahal zikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol saja lima belas menit masih dianggap ringan. Atau ada juga yang sampai pada tahap zikir, diucapnya berulang-ulang, subhanallaah – subhanallah, tapi pikiran melayang kemana saja. Anehnya lagi kalau memikirkan dia si jantung hati konsentrasinya sungguh luar biasa. Kenapa, misalnya, mengucap subhanallaah tiga puluh tiga kali, yang sadar mengucapkannya cuma satu kali? Atau ingatlah saat kita akan berdo’a. Walaupun dilakukan, akan dengan seringkas mungkin. Padahal demi Allah, zikir-zikir yang kita ucapkan akan kembali pada diri kita juga.
Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati. Segeralah lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan cara segera melakukan ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bangun dan lawan! Insya Allah itu akan lebih dekat kepada ketaatan. Janganlah karena kemalasan beribadah yang kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, naudzubillaah.
Firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali." (QS. An Nisa [4] : 142)
Ingatlah bahwa kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu berupa kemalasan dalam beribadah, maka kita ini sebenarnya sedang menyusahkan diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia Allah buat kemaslahatan diri kita juga. Coba, Allah menyuruh kita berzikir, siapa yang dapat pahala? Kita. Allah menyuruh kita berdo’a, lalu do’a itu diijabah. Buat siapa? Buat kita. Allah sedikit pun tidak ada kepentingan mamfaat atau madharat terhadap apa-apa yang kita lakukan. Tepatlah ungkapan Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Hikam, "Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surga-Nya (dan tidak mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surga-Nya)". Maka Abul Hasan Ashadilly menasehatkan bahwa, "Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan lebih mencintai Allah SWT".
Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu bukan karena siapa-siapa, itu semua kita yang buat. Padahal sungguh, setiap desah nafas yang kita hembuskan adalah amanah dari Allah SWT, dan sebagai titipan wadah yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Sedangkan hak ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang dilalui oleh seorang hamba. Abul Hasan lebih lanjut mengatakan, "Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan kepadamu terhadap Allah SWT (yaitu beribadah)".
Jadi, sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimuliakan, tapi justru amal-amal yang kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah. Seperti orang yang bercita-cita masuk surga tapi amalan-amalan yang dipilih amalan-amalan ahli maksiat. Maka, sahabat-sahabat sekalian sederhanakanlah hidup kita, paksakan diri untuk taat kepada perintah Allah kalau belum bisa ikhlas dan ringan dalam beribadah. Mudah-mudahan Allah yang melihat kegigihan diri kita memaksa diri ini, nanti dibuat jadi tidak terpaksa karena Dia-lah yang Maha Menguasai diri ini. Insya Allah.
Bunda Ayo Melek Media
Peran bunda bagi kita pastinya sungguh luar biasa. Mulai dari mengandung, perjuangan melahirkan, sampai perjuangan membesarkan anak-anaknya. Maka, tersebutlah kisah untuk menjadikan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Hari untuk mengenang jasa-jasa ibunda, hari untuk mengistimewakan bunda, atau hari sekedar mengucapkan selamat hari ibu.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas tentang peran luar biasa ibu. Tulisan ini hadir sebagai kado untuk para bunda. Tulisan ini mengajak para bunda untuk melek media dalam membesarkan putra-putrinya. Jangan sampai putra-putri dibesarkan oleh pengaruh media. Media disini penulis khususkan pada media televisi.
Apa itu melek media? Melek media adalah kemampuan untuk memilah, mengakses, dan menganalisis isi media. Melek media adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siapa saja, sehubungan dengan banyaknya media massa yang ada di tengah-tengah kita.
Mungkin ada pertanyaan hadir dibenak bunda-bunda sekalian, kenapa kita harus melek media? Begini bunda, tidak semua isi media massa bermanfaat bagi putra-putri kita. Banyak di antaranya yang tidak mendidik dan hanya mengedepankan kepentingan pemilik/pengelola media untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan melek media maka bunda-bunda sekalian punya kemampuan untuk memilah dan menilai isi media massa secara kritis, sehingga putra-putri kita diharapkan hanya memanfaatkan isi media sesuai dengan kepentingannya.
Bunda, sadarkah kita, bahwa media, khususnya televisi telah menjadi pengasuh bagi putra-putri kita selain bunda? Mari perhatikan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, monitor bernama televisi selalu hidup untuk menemani aktifitas buah hati bunda semua. Pernah bunda merasa prihatin atas tingkah laku kasar putra-putri bunda berasal darimana? padahal bunda merasa tidak pernah mengajarkannya.
Mari kita cermati, apa saja tayangan yang dihadirkan oleh pengelola stasiun televisi? Ada acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh gaya hidup mewah dan penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Bahkan, acara anak pun dipenuhi oleh adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak
Maka menjadi wajar jika, tayangan-tayangan tidak mendidik tersebut terserap dengan baik oleh otak putra-putri kita. Akibatnya apa bunda? Putra-putri kita mencontek habis apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dari televisi tersebut? Bahkan putra-putri kita bisa kehilangan kepolosan dan keceriaannya, tersempitkan persepsinya dalam dunia orang dewasa yang penuh intrik, meniru budaya instan dan perilaku antisosial.
Kita tentu prihatin dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita membutuhkan televisi sebagai sarana informasi dan komunikasi, di sisi lain, kita melihat televisi berkembang menjadi industri penyiaran yang gagal menyediakan alternatif program yang mencerdaskan putra-putri kita. Sayangnya, keprihatinan itu baru sebatas wacana. Diperlukan aksi yang lebih konkret untuk mengubah wacana keprihatinan menjadi sesuatu yang benar-benar nyata.
Bukan hal yang mudah untuk lebih selektif memilih program tayangan televisi yang layak ditonton oleh anak-anak. Selama ini tidak banyak program televisi untuk anak-anak yang cukup mendidik. Jika ada kemasannya tidak mampu membuat duduk dan menontonnya. Sementara televisi berlangganan yang menawarkan pilihan-pilihan program yang lebih baik, masih dianggap terlalu mahal biaya berlangganannya.
Menghentikan kebiasaan menonton televisi pada anak-anak butuh keberanian dari orang tua untuk melakukannya. Orang tua tidak bisa begitu saja melarang anaknya menonton televisi tanpa orang tua sendiri bersedia menghentikan kebiasaan itu bagi diri mereka sendiri.
Persoalan kecanduan anak-anak terhadap televisi dapat dilihat sebagai cerminan ketidak mampuan orang tua untuk menyediakan aktivitas di luar rumah bagi putra-putrinya. Ketidak mampuan ini juga karena lingkungan sosial saat ini tidak dapat memberikan jaminan rasa aman ketika berinteraksi di luar rumah.
Solusi Untuk Bunda
Lalu apa yang harus dilakukan bunda agar putra-putrinya mendapat tontonan bermanfaat?
Pertama, bunda bisa melakukan pendampingan. Putra-putri kita boleh menonton televisi, tetapi harus didampingi orangtua. . Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan. Tapi akan menjadi persoalan bila orangtua kedua-duanya bekerja. Mungkin putra-putri bunda bisa didampingi pengasuh atau orang kepercayaan dari keluarga. Meski demikian, orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh atau anggota keluarga yang dipercaya sebelum berangkat bekerja.
Cara kedua adalah membatasi waktu. Mengutip pendapat Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto, bahwa bayi usia nol sampai tiga tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton selama dua jam sehari.
Ketiga, usahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur
Sebagai penutup untuk kita para orangtua, khususnya bunda sebagai orang terdekat dalam perkembangan putra-putrinya, harus kita camkan dalam pikiran dan hati kita bahwa televisi bukan alat pengganti pengasuh putra-putri kita. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang positif dan bermanfaat. Sebagai contoh bunda bisa mengajak putra-putrinya untuk membaca, berkebun, memasak, atau bahkan bewrsilaturahmi ke rumah tetangga sekitar atau saudara-saudara kita yang jarang kita kunjungi.
Mari bunda, bersama-sama kita mendidik putra-putri kita menjadi putra-putri yang sehat dan cerdas. Apa yang kita tanam pada putra-putri kita saat ini merupakan investasi yang hasilnya akan kita tuai kelak saat mereka dewasa. Selamat Hari Ibu.
Tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas tentang peran luar biasa ibu. Tulisan ini hadir sebagai kado untuk para bunda. Tulisan ini mengajak para bunda untuk melek media dalam membesarkan putra-putrinya. Jangan sampai putra-putri dibesarkan oleh pengaruh media. Media disini penulis khususkan pada media televisi.
Apa itu melek media? Melek media adalah kemampuan untuk memilah, mengakses, dan menganalisis isi media. Melek media adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siapa saja, sehubungan dengan banyaknya media massa yang ada di tengah-tengah kita.
Mungkin ada pertanyaan hadir dibenak bunda-bunda sekalian, kenapa kita harus melek media? Begini bunda, tidak semua isi media massa bermanfaat bagi putra-putri kita. Banyak di antaranya yang tidak mendidik dan hanya mengedepankan kepentingan pemilik/pengelola media untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan melek media maka bunda-bunda sekalian punya kemampuan untuk memilah dan menilai isi media massa secara kritis, sehingga putra-putri kita diharapkan hanya memanfaatkan isi media sesuai dengan kepentingannya.
Bunda, sadarkah kita, bahwa media, khususnya televisi telah menjadi pengasuh bagi putra-putri kita selain bunda? Mari perhatikan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, monitor bernama televisi selalu hidup untuk menemani aktifitas buah hati bunda semua. Pernah bunda merasa prihatin atas tingkah laku kasar putra-putri bunda berasal darimana? padahal bunda merasa tidak pernah mengajarkannya.
Mari kita cermati, apa saja tayangan yang dihadirkan oleh pengelola stasiun televisi? Ada acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh gaya hidup mewah dan penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Bahkan, acara anak pun dipenuhi oleh adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak
Maka menjadi wajar jika, tayangan-tayangan tidak mendidik tersebut terserap dengan baik oleh otak putra-putri kita. Akibatnya apa bunda? Putra-putri kita mencontek habis apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dari televisi tersebut? Bahkan putra-putri kita bisa kehilangan kepolosan dan keceriaannya, tersempitkan persepsinya dalam dunia orang dewasa yang penuh intrik, meniru budaya instan dan perilaku antisosial.
Kita tentu prihatin dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita membutuhkan televisi sebagai sarana informasi dan komunikasi, di sisi lain, kita melihat televisi berkembang menjadi industri penyiaran yang gagal menyediakan alternatif program yang mencerdaskan putra-putri kita. Sayangnya, keprihatinan itu baru sebatas wacana. Diperlukan aksi yang lebih konkret untuk mengubah wacana keprihatinan menjadi sesuatu yang benar-benar nyata.
Bukan hal yang mudah untuk lebih selektif memilih program tayangan televisi yang layak ditonton oleh anak-anak. Selama ini tidak banyak program televisi untuk anak-anak yang cukup mendidik. Jika ada kemasannya tidak mampu membuat duduk dan menontonnya. Sementara televisi berlangganan yang menawarkan pilihan-pilihan program yang lebih baik, masih dianggap terlalu mahal biaya berlangganannya.
Menghentikan kebiasaan menonton televisi pada anak-anak butuh keberanian dari orang tua untuk melakukannya. Orang tua tidak bisa begitu saja melarang anaknya menonton televisi tanpa orang tua sendiri bersedia menghentikan kebiasaan itu bagi diri mereka sendiri.
Persoalan kecanduan anak-anak terhadap televisi dapat dilihat sebagai cerminan ketidak mampuan orang tua untuk menyediakan aktivitas di luar rumah bagi putra-putrinya. Ketidak mampuan ini juga karena lingkungan sosial saat ini tidak dapat memberikan jaminan rasa aman ketika berinteraksi di luar rumah.
Solusi Untuk Bunda
Lalu apa yang harus dilakukan bunda agar putra-putrinya mendapat tontonan bermanfaat?
Pertama, bunda bisa melakukan pendampingan. Putra-putri kita boleh menonton televisi, tetapi harus didampingi orangtua. . Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan. Tapi akan menjadi persoalan bila orangtua kedua-duanya bekerja. Mungkin putra-putri bunda bisa didampingi pengasuh atau orang kepercayaan dari keluarga. Meski demikian, orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh atau anggota keluarga yang dipercaya sebelum berangkat bekerja.
Cara kedua adalah membatasi waktu. Mengutip pendapat Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto, bahwa bayi usia nol sampai tiga tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton selama dua jam sehari.
Ketiga, usahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur
Sebagai penutup untuk kita para orangtua, khususnya bunda sebagai orang terdekat dalam perkembangan putra-putrinya, harus kita camkan dalam pikiran dan hati kita bahwa televisi bukan alat pengganti pengasuh putra-putri kita. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang positif dan bermanfaat. Sebagai contoh bunda bisa mengajak putra-putrinya untuk membaca, berkebun, memasak, atau bahkan bewrsilaturahmi ke rumah tetangga sekitar atau saudara-saudara kita yang jarang kita kunjungi.
Mari bunda, bersama-sama kita mendidik putra-putri kita menjadi putra-putri yang sehat dan cerdas. Apa yang kita tanam pada putra-putri kita saat ini merupakan investasi yang hasilnya akan kita tuai kelak saat mereka dewasa. Selamat Hari Ibu.
Langganan:
Postingan (Atom)