Kalau orang Indonesia yang suka nonton tv, pasti tau dengan TV Satu yang punya semboyan “ paling depan ngabarin”. Beberapa waktu lalu (hingga tulisan ini dibuat), ada berita tentang TKI Indonesia yang bekerja di jazirah arab terancam hukuman pancung jika tidak mampu membayar denda sebesar 4,7 miliar.
Sebenarnya bukan kisah si TKI yang bernama Darsem itu yang menjadi unek-unek saya. Tapi lebih pada cara wartawan TV Satu itu mewawancara keluarga Darsem, khususnya bapak dan ibunya.
Alkisah, sebelum bagian wawancara di tayangkan, pembawa acara bercerita bahwa Darsem adalah TKI asal sebuah desa di Indonesia (saya lupa nama desanya). Sehari-hari keluarga Darsem hidup susah. Darsem pergi menjadi TKI dengan harapan bisa membantu keluarganya dan supaya bisa bebas dari kemiskinan. Tapi, apa mau dikata, di jazirah Arab, majikan Darsem berusaha memperkosanya. Darsem pun mempertahan dirinya, dan membunuh majikannya tersebut.
Berdasarkan hukum jazirah arab, hukuman untuk seorang pembunuh adalah dipancung, kecuali jika keluarga memaafkan. Nah, disini keluarga korban bersedia memaafkan, tapi Darsem harus mewmbayar denda 4,7 miliar.
Lalu, gambar tentang keluarga Darsem dimunculkan, bagaimana kondisi rumah dan keluarganya yang memang kalau dilihat ditayangan itu dalam kondisi memprihatikan.
Lalu tiba bagian dimana reporter TV Satu mewawancara bapaknya Darsem, dan pertanyaan ini bikin saya jengkel dengan reporter itu, pertanyaannya, “ Bapak merasa berat ga harus membayar denda 4 miliar?”
Tiba-tiba jadi berpikir, apa reporter itu emang ga ada otak apa mabok?? Sudah tau orang susah, makan sehari-hari susah, ditanyalah merasa berat ga membayar denda 4 miliar. Gila kali!!!!
Saya yakin, bapaknya Darsem itu ngebayangin duit semiliar aja gak pernah. Jangankan semiliar, ratusan juta aja gak pernah, atau malah puluhan juta aja ga pernah tuh kebayang sama bapaknya Darsem.
Mbok ya kalo nanya cari pertanyaan lain mas, yang kira-kira lebih masuk akal dan berempati. Bukan yang asal-asal yang penting setor berita.