Minggu, 06 Februari 2011

Bunda Ayo Melek Media

Peran bunda bagi kita pastinya sungguh luar biasa. Mulai dari mengandung, perjuangan melahirkan, sampai perjuangan membesarkan anak-anaknya. Maka, tersebutlah kisah untuk menjadikan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Hari untuk mengenang jasa-jasa ibunda, hari untuk mengistimewakan bunda, atau hari sekedar mengucapkan selamat hari ibu.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas tentang peran luar biasa ibu. Tulisan ini hadir sebagai kado untuk para bunda. Tulisan ini mengajak para bunda untuk melek media dalam membesarkan putra-putrinya. Jangan sampai putra-putri dibesarkan oleh pengaruh media. Media disini penulis khususkan pada media televisi.

Apa itu melek media? Melek media adalah kemampuan untuk memilah, mengakses, dan menganalisis isi media. Melek media adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siapa saja, sehubungan dengan banyaknya media massa yang ada di tengah-tengah kita.
Mungkin ada pertanyaan hadir dibenak bunda-bunda sekalian, kenapa kita harus melek media? Begini bunda, tidak semua isi media massa bermanfaat bagi putra-putri kita. Banyak di antaranya yang tidak mendidik dan hanya mengedepankan kepentingan pemilik/pengelola media untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan melek media maka bunda-bunda sekalian punya kemampuan untuk memilah dan menilai isi media massa secara kritis, sehingga putra-putri kita diharapkan hanya memanfaatkan isi media sesuai dengan kepentingannya.

Bunda, sadarkah kita, bahwa media, khususnya televisi telah menjadi pengasuh bagi putra-putri kita selain bunda? Mari perhatikan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, monitor bernama televisi selalu hidup untuk menemani aktifitas buah hati bunda semua. Pernah bunda merasa prihatin atas tingkah laku kasar putra-putri bunda berasal darimana? padahal bunda merasa tidak pernah mengajarkannya.

Mari kita cermati, apa saja tayangan yang dihadirkan oleh pengelola stasiun televisi? Ada acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh gaya hidup mewah dan penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Bahkan, acara anak pun dipenuhi oleh adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak

Maka menjadi wajar jika, tayangan-tayangan tidak mendidik tersebut terserap dengan baik oleh otak putra-putri kita. Akibatnya apa bunda? Putra-putri kita mencontek habis apa yang dia lihat, apa yang dia dengar dari televisi tersebut? Bahkan putra-putri kita bisa kehilangan kepolosan dan keceriaannya, tersempitkan persepsinya dalam dunia orang dewasa yang penuh intrik, meniru budaya instan dan perilaku antisosial.

Kita tentu prihatin dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita membutuhkan televisi sebagai sarana informasi dan komunikasi, di sisi lain, kita melihat televisi berkembang menjadi industri penyiaran yang gagal menyediakan alternatif program yang mencerdaskan putra-putri kita. Sayangnya, keprihatinan itu baru sebatas wacana. Diperlukan aksi yang lebih konkret untuk mengubah wacana keprihatinan menjadi sesuatu yang benar-benar nyata.

Bukan hal yang mudah untuk lebih selektif memilih program tayangan televisi yang layak ditonton oleh anak-anak. Selama ini tidak banyak program televisi untuk anak-anak yang cukup mendidik. Jika ada kemasannya tidak mampu membuat duduk dan menontonnya. Sementara televisi berlangganan yang menawarkan pilihan-pilihan program yang lebih baik, masih dianggap terlalu mahal biaya berlangganannya.
Menghentikan kebiasaan menonton televisi pada anak-anak butuh keberanian dari orang tua untuk melakukannya. Orang tua tidak bisa begitu saja melarang anaknya menonton televisi tanpa orang tua sendiri bersedia menghentikan kebiasaan itu bagi diri mereka sendiri.

Persoalan kecanduan anak-anak terhadap televisi dapat dilihat sebagai cerminan ketidak mampuan orang tua untuk menyediakan aktivitas di luar rumah bagi putra-putrinya. Ketidak mampuan ini juga karena lingkungan sosial saat ini tidak dapat memberikan jaminan rasa aman ketika berinteraksi di luar rumah.
Solusi Untuk Bunda

Lalu apa yang harus dilakukan bunda agar putra-putrinya mendapat tontonan bermanfaat?
Pertama, bunda bisa melakukan pendampingan. Putra-putri kita boleh menonton televisi, tetapi harus didampingi orangtua. . Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan. Tapi akan menjadi persoalan bila orangtua kedua-duanya bekerja. Mungkin putra-putri bunda bisa didampingi pengasuh atau orang kepercayaan dari keluarga. Meski demikian, orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh atau anggota keluarga yang dipercaya sebelum berangkat bekerja.

Cara kedua adalah membatasi waktu. Mengutip pendapat Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto, bahwa bayi usia nol sampai tiga tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton selama dua jam sehari.

Ketiga, usahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur

Sebagai penutup untuk kita para orangtua, khususnya bunda sebagai orang terdekat dalam perkembangan putra-putrinya, harus kita camkan dalam pikiran dan hati kita bahwa televisi bukan alat pengganti pengasuh putra-putri kita. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang positif dan bermanfaat. Sebagai contoh bunda bisa mengajak putra-putrinya untuk membaca, berkebun, memasak, atau bahkan bewrsilaturahmi ke rumah tetangga sekitar atau saudara-saudara kita yang jarang kita kunjungi.

Mari bunda, bersama-sama kita mendidik putra-putri kita menjadi putra-putri yang sehat dan cerdas. Apa yang kita tanam pada putra-putri kita saat ini merupakan investasi yang hasilnya akan kita tuai kelak saat mereka dewasa. Selamat Hari Ibu.

1 komentar: